Inilah Perilaku HRD Yang Buruk Yang Bisa Mengancam Karir

tanda HR manager buruk

Dalam sebuah perusahaan divisi Human Resources Department memiliki peran yang sangat penting. HRD tidak hanya bertugas untuk membuat kebijakan tentang karyawan saja.

HRD juga bertugas untuk mengembangakn SDM sebagai ujung tombak perusahaan. Karena tugas yang diemban cukup berat maka untuk menjadi HR yang profesional memang penuh tantangan.

Mungkin akan ada banyak karyawan yang tidak suka terhadap cara kerja HR Manajer karena terkesan sok mengatur.

Nah artikel di bawah ini akan mengupas tuntas perilaku HRD yang buruk, solusi masalah pada divisi HRD, serta cara menjadi HRD yang profesional.

Tugas Utama HRD Manajer

Sebelum kamu berkeinginan untuk menjadi HRD yang baik, kamu harus tahu apa saja tugas HRD. Berikut adalah rincian tugas HRD:

  1. Membuat kebijakan terkait karyawan
  2. Mengembangkan seluruh sumber daya manusia di perusahaan
  3. Membuat SOP setiap posisi pekerjaan
  4. Bertanggung jawab atas proses seleksi karyawan baru
  5. Mengadakan promosi, pemindahan atau demosi pada karyawan jika diperlukan
  6. Memberikan kegiatalan pelatihan baik berupa hard skill maupun soft skill karyawan
  7. Bertanggung jawab terhadap ketertiban karyawan dari absensi, gaju, bonus serta tunjangan
  8. Membuatkan kontrak kerja serta pembaharuan kontrak kerja karyawan
  9. Melakukan tindakan disipliner bagi karyawan

Masalah Yang Sering Muncul Di Divisi HRD Serta Solusinya

Divisi HRD akan sering bersinggungan dengan para karyawan dalam menjalankan tugasnya. Maka dari itu akan terjadi banyak permasalahan yang muncul.

Hal tersebut dikarenakan setiap karyawan pun punya pemikiran tersendiri ketika melakukan pekerjaanya. Nah berikut ini adalah permasalahan yang sering dihadapi oleh HRD beserta solusinya:

Karyawan Yang Tidak Disiplin

Rendahnya kedisiplinan dan produktivitas karyawan adalah masalah yang paling sering ditemui di berbagai perusahaan. Setiap hari pasti ada saja karyawan yang datang terlambat, tidur saat jam kerja atau pulang lebih awal.

Solusi: Buatlah aturan yang tegas terhadap poin-poin yang sering dilanggar oleh karyawan tersebut di atas. Selain memberikan peraturan HRD juga harus memantau tingkat kedisiplinan karyawan secara berkala.

Kinerja Karyawan Yang Buruk

Setalah melalui proses rekrutmen yang panjang ternyata masih saja ada karyawan yang belum bisa bekerja secara maksimal. Entah itu karena kurangnya pengalaman, skill ataupun sikap yang buruk.

Solusi: Memberikan pelatihan keterampilan, pengetahuan serta sof skill. Selanjutnya HR harus mengevaluasi hasil kerja karyawan dan memberikan pemantauan berkala.

Kesulitan Dalam Mengatur Gaji, Pajak Serta Jaminan Karyawan

Setiap akhir bulan HRD pasti sibuk dengan rekapan absen, cuti maupun izin. HRD akan mudah merekap apabila jumlah karyawan belum banyak.

Bagaimana kalau jumlah karyawan mencapai ratusan atau ribuan? Pusing kan kepala barbie. Nah kesulitan tersebut tentunya juga akan berpengaruh pada penggajian karyawan. Apalagi jika menggunakan perhitungan manual.

Solusi: Gunakanlah aplikasi atau software untuk merekap absensi hingga gaji karyawan. Jadi HRD harus inovatif ya apalagi berhubungan dengan pengembangan SDM.

Konflik Antar Karyawan Serta Atasan

Nah ini ni masalah yang paling bikin HR Manajer stress yaitu konflik antar karyawan. Atau bahkan konflik antara karyawan dengan atasan dan HR Manajer.

Solusi: HRD harus bisa menjadi penengah yang tidak berpihak pada salah satu pihak saja. Pilih kasih tentunya akan menimbulkan kecemburuan.

Kedua belah pihak harus diberi kesempatan untuk menjelaskan kesulitan atau permasalah yang dihadapi. Barulah HRD bisa menjembatani dan memberikan solusi terbaik.

Menemukan Karyawan Yang Tepat

Berdasakan survei yang dilakukan oleh Delloitte pada tahun 2018, sebesar 43% karyawan pada usia produktif berencana keluar dari perusahaann dalam 2 tahun. Maka dari itu HRD memiliki tugas untuk merekrut karyawan baru hampir setiap tahun.

Pada tahap ini HRD bisa saja mengalami kesulitan dalam menemukan karyawan yang sesuai dengan kualifikasi. Bisa karena jumlah pelamar yang terlalu sedikit atau malah terlalu banyak.

Solusi: Gunakan platform untuk mengiklankan rekrutmen sehingga bisa menjangkau banyak calon pelamar. Selain itu juga harus memiliki daftar kriteria karyawan yang diinginkan. Lakukanlah beberapa tes untuk menjaring calon karyawan terbaik.

Perilaku HRD Yang Buruk

Seperti yang telah kami sebutkan di atas karena HRD akan berhubungan dengan karyawan maka dari itu penting untuk menghindari beberapa karakter di bawah ini:

Materialistis

Uang memang menjadi salah satu hal yang sensitif pada banyak hal. Pada divisi HRD sendiri setiap keputusan mereka buat akan berorientasi pada keuangan perusahaan. Artinya, HRD harus bisa  mengambil kebijakan, tindakan, dan pengambilan keputusan yang tepat.

Contoh, saat perusahaan mengalami masalah finansial, HRD memotong gaji atau tidak memberikan bonus sesuai dengan hak yang seharusnya diterima karyawan.

Sejatinya keberadaan HRD adalah sebagai tangan kanan perusahaan yang mana menjadi penghubung pertama bagi karyawan dan menyentuh segala hal yang berkaitan dengan karyawan

Pendiskriminasi

Mental yang seperti inilah yang sering menyulut konflik antara karyawan dengan HRD dan menjadi penyakit yang sering menjangkiti HRD. Dengan memposisikan diri mereka sebagai bos dan melihat karyawan sebagai budak.

Yang mana karyawan harus mengikuti keinginan dan kemauan HRD yang terkadang tidak manusiawi. Hal ini akan memicu kesenjangan yang sangat tinggi antara HRD dengan karyawan.

Jeli dan tegas dalam melihat hal – hal yang negatif dan mengeluarkan kebijakan terhadap karyawan memanglah peran dari seorang HRD.

Namun jika hal tersebut dilakukan secara berlebihan, akan menimbulkan rasa tidak nyaman dan menimbulkan konflik antara karyawan dan HRD.

Tidak Bisa Dipercaya

HRD seharusnya dapat menjadi teman kerja yang baik bagi karyawan. Namun apabila karyawan sudah tidak percaya lagi terhadap HRD, dapat disimpulkan jika itu adalah sebuah kegagalan.

Contoh, seorang karyawan yang memiliki masalah dan disarankan untuk menemui HRD agar masalah terselesaikan namun menolak dengan jawaban “ tidak usah, mereka tidak akan membantu, dan hanya akan memperkeruh suasana “.

Ketidakpercayaan karyawan akan menjadi masalah serius dan menjadi bentuk kegagalan bagi HRD. Karena HRD sudah tidak berjalan sesuai fungsinya.

Tidak Ramah

HRD juga merupakan pelayan untuk karyawan itu sendiri. Kasus seperti ini sering terjadi di divisi HRD, yang mengabaikan sebuah cara mereka untuk membantu karyawan.

Jika hal ini terjadi, maka sudah bisa dipastikan terjadi kesalahan dan harus ada pembenahan internal disana. Jika tidak kunjung berubah, maka HRD harus segera diganti dengan yang lebih baik.

Makan Gaji Buta

Ketika karyawan melakukan pekerjaanya maka HRD harus memberikan pengarahan. Jika karyawan membuat deskripsi kerja sudah selayaknya mendapatkan input dari HRD. 

Maka dari itu setiap manajer perusahaan harus tegas dalam membagi tugas agar semua divisi bekerja sesuai dengan deskripsi pekerjaannya masing. masing.

Dengan adanya HRD pada suatu perusahaan seharusnya dapat bekerja sebagaimana fungsinya. Sebagai HRD juga harus benar – benar memperhatikan karyawan dengan sebaik – baiknya.

Karena perusahaan itu bisa dikatakan baik jika memiliki HRD yang proaktif terhadap karyawan dan peduli dengan kesejahteraan seluruh karyawan.

Menjadi HRD Yang Disukai Karyawan

Untuk menghindari konflik, kamu juga perlu tahu bagaimana HRD yang baik itu. Perhatikan cara berikut untuk menjadi HRD yang baik.

Posisikan Dirimu Sebagai Pemimpin Bukan Bos

Memposisikan diri sebagai pemimpin dalam divisi HRD sangat lah penting. Sebagaimana seorang HR manager harus memiliki keputusan, dan kebijakan yang tepat.

Kamu harus bisa mengatur dan mengontrol semua karyawan untu tercapainya sebuah tujuan perusahaan.

Jika ingin memposisikan diri sebagai teman, pastikanlah dalam keadaan yang berbeda satu sama lain, seperti halnya di luar jam kerja.

Mengerti Kebutuhan Karyawan

Mengambil keputusan dan memberikan kebijakan dengan melakukan perhitungan yang tepat memanglah sangat penting. Namun dalam urusan hitungan jam, hari, dan jadwal sebaiknya dihentikan dan mulailah melakukan komunikasi terbuka dengan sesama rekan kerja.

Cobalah untuk mengajak  mereka berdialog santai sembari kamu mencari tahu apa yang dibutuhkan karyawan, apa yang bisa kamu lakukan sebagai seorang manajer agar dapat menjadi seorang pemimpin yang ideal dan dapat meningkatkan efektivitas kerja.

Mengamati Lingkungan Kerja

Banyak karyawan yang lebih sering menggunakan bahasa tubuh untuk mengekspresikan diri mereka saat bekerja, dibandingkan dengan kata – kata.

Cobalah untuk menjadi lebih peka dan terbuka terhadap lingkungan sekitar.

Dengan pengamatan yang jeli dari tanda – tanda non verbal kamu akan bisa memahami seperti apa keadaan karyawan tersebut.

Seperti cara karyawan berinteraksi, siapa yang memulai pembicaraan, siapa yang pertama ketawa, dan siapa yang membuang muka atau memalingkan mata.

Menjadi pendengar yang baik

Cara ini merupakan salah satu cara untuk mengetahui masalah – masalah yang dialami karyawan yang mungkin belum bisa tersampaikan.

Dengan begitu kamu akan mengerti dan memahami seperti apa permasalahan yang ada, dan segeralah memberikan solusi yang tepat dan keputusan yang bijaksana.

HRD manager merupakan posisi penting yang mana bisa menjadi tempat berkeluh kesah dengan segala masalah yang mereka hadapi dan menjadi pemberi solusi yang baik bagi karyawan.

Dalam pertimbangan poin – poin di atas, kamu bisa mempelajari dan mengetahui tentang baik dan buruknya, gagal atau tidaknya fungsi HRD pada suatu perusahaan.

Kesimpulan

Berat dan sulitnya tugas jangan dijadikan sebagai alasan perilaku HRD yang buruk bisa diterapkan ketika menghadapi karyawan. Sejatinya HRD memang berurusan dengan segala kebutuhan karyawan, pengembangan serta evalusi.

Maka dari itu harus dibutuhkan pendekatan yang lebih intens dan keras. Ketika HRD ingin menjalankan tugasnya terkadang banyak karyawan yang menelannya mentah-mentah dan beranggapan bahwa HRD bekerja untuk pimpinan saja.

Apapun pandangan karyawan terhadap HRD sebenarnya bisa diluruskan jika ada kepercayaan dari semua pihak.

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Artikel Terkait

Tinggalkan komentar